Rabu, 12 Oktober 2011

Hati Cakil Terpanah Srikandi

Saat itu aku duduk dibangku kelas 7 SMP. Tempat awal, para calon ABG mulai merintis mencari jati dirinya. Dengan semangat muda jalani awal yang baru saat itu. Saya seorang murid biasa yang masih mencari sesuatu yang benar-benar dapat saya banggakan. Ayah saya seorang pengayom masyarakat. Ibu saya seorang guru bahasa, dan juga pengajar tari. Fakultas tari lah yang telah mengantarkan beliau menjadi seorang guru. Dengan banyak cerita tentang tari, dan teman-teman yang berprofesi sebagai guru-guru dan lain sebagainya yang juga berprofesi sebagai pengajar di Kudus. Di tempat saya tinggal ini belum begitu banyak orang-orang yang berkecimpung didalamnya. Oleh sebabnya, itulah yang membuat mereka mudah mengenal satu sama lainnya.
Selang beberapa bulan, sebagian dari kami mulai memperlihatkan masing-masing andilnya, mulai dari bermusik, olahraga, seni, dan lainnya. layaknya pemuda yang penuh semangat bersaing, saya iri dengan bakat masing-masing mereka, dan itu adalah suatu motivasi bagi saya.
Dulu ketika saya duduk dibangku kelas 5 sd. Saya sering diajak ibu mngajar ekstra di tempat beliau mengajar. Itu adalah saat-saat Pekan Olahraga dan Seni, lomba yang diadakan cabang seni tari yakni tari “Bambangan Cakil” dengan dua penari yang berperan sebagai Bambangan atau Janaka oleh putri dan Cakil oleh putra. Latihan yang membuat mata kepala anak kelas 5 sd ini benar-benar terkesima karenanya. Mungkin karena penarinya, tariannya, ritmenya, atau mungkin karena aku memang suka dengan sesuatu yang berbau wayang. Dengan sukses, mereka menang. Mengingat perjuangan ibu mengantarkan anak didiknya yang berdandan layaknya cakil dengan motor roda dua menuju tempat lomba. Mungkinkah suatu saat aku dapat menjadi cakil. Pandangan saya saat itu terhadap tari pun berubah. Tari yang identik dengan wanita, lembut, kuno, lucu di masa kini? Itu hanyalah pandangan orang-orang yang belum benar-benar mengerti tari.
Salah seorang guru sekolahku adalah teman dekat ibu, yang berprofesi sama sebagai pengajar tari di sekolahku. Ketika itu beliau mengajar di kelas saya. Suatu ketika beliau menawarkan kepada saya untuk mengikuti lomba tari PORSENI SMP se-Kabupaten. Tapi tidak saat itu pun saya jawab. Banyak yang saya pikirkan, dari tariannya, sampai-sampai saya memikirkan suara-suara yang akan timbul jika teman-teman tahu saya menari. Itulah bodohnya saya masih memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Sampai dirumah saya meminta pendapat ibu tentang hal itu. Beliau berpendapat itu tidak masalah, bisa tidaknya tergantung saya, mau atau tidaknya pun tergantung saya, tanpa paksaan dari ibu yang juga pengajar tari. Dan ketika saya ditawarkan kembali, dengan banyak pemikiran saya mengiyakan tawaran tersebut. Dan ternyata, lomba tari di tahun ini ialah “Srikandi Cakil” .
Siapakah gerangan Srikandi itu? Cakil? Mampukah saya? Dengan tarian yang ritmenya berubah-ubah. Aku yang sebelumnya hanya pernah menari sekali, apakah bisa? Semoga ada darah tari dari ibu yang masih mengalir dalam diri saya. Itulah hal-hal yang ada dibenak saya.
Latihan pertama, di lantai dua rumah saya pukul 15.30 . Diajar oleh guru yang diundang langsung sekolah. Beliau bernama pak Karsimin, salah satu pakar tari dan karawitan di Kudus, dengan kumis tebal, dan perawakan yang gagah. Beliau berkata bahwa segala hal akan bisa dan berhasil baik, bila kita sebelumnya harus senang dengan itu, termasuk tari. Tak lama kemudian datang seorang gadis yang asing bagi saya yang ternyata adalah Srikandi pasangan tari saya. “Bisa-bisa malah ngga konsen kalau lawan mainnya semanis ini. hehehe”dalam hati saya. Dia adalah gadis yang dari SD telah banyak menjuarai lomba-lomba tari. Sedikit demi sedikit gerakan diajarkan kepada saya yang belajar tari dari nol saat itu. Lamanya waktu semakin banyaklah materi yang harus saya mengerti, pahami, dan hafalkan. Dari sekian yang saya rasa banyak, ternyata pak karsimin bilang itu baru 1/64 dari tarian.. waoow.. seperempat saja belum tercapai.
Tarian “Srikandi Cakil” adalah tarian yang mengisahkan ketika Srikandi membunuh Cakil yang hendak menculik Sembadra. Sembadra yakni istri Arjuna, dan Srikandi pun salah satu istri Arjuna. Tarian yang berdurasi sekitar 12menit terdapat banyak bagian, dari awalan, sekaran1, sekaran2, sekaran3, sekaran4, perang1, perang2, perang keris1, perang keris2. Pak Karsimin menambahkan, saat itu di ISI hanya beberapa mahasiswa yang lulus dengan materi itu. Apakah saya yang dari nol akan bisa menyelesaikannya dalam 20pertemuan? Apakah saya bisa mengimbangi gadis yang sudah gemilang soal tari? Apakah saya dapat untuk tidak mengecewakan sekolah saya?
Semangat saya terpacu, saya sadar ini bukan suatu yang mudah. Saya harus sungguh-sungguh. Hari silih berganti, 20hari berturut-turut mencoba menjadi Cakil dan bersama Srikandi. Suatu siang, kami berlatih di sekolah. Mungkin beberapa dari teman saya terkejut, tertawa, atau yang lainnya, dan ada yang berpendapat “kok tidak anto saja bu, dia kan lemah lembut” mendengarnya saya teringat pandangan saya terhadap tari dulu. Di suatu kelas siang itu, mungkin beberapa mengintip kami dari jendela kelas agak terheran dengan tari yang kami bawakan saat itu, mungkin jauh dari pandangan mereka. Ada juga saat dimana saya tidak bisa melakukan suatu gerakan, padahal ibu saya mengajari saya dengan sangat pelan. Dari kepala hingga ujung jari kaki ini berusaha sepenuhnya berperan bak Cakil.
20hari itu kami lewati, dia dengan srikandinya dan saya dengan cakil telah menjadi kebiasaan saat itu. Malam, sore, kadang siang, Kulihat dirinya. Gadis yang menyita perhatian saya diawal jumpa. Tapi bodohnya, hingga beberapa hari masih sungkan sekali untuk bicara dengannya. Dimulai dari iseng-iseng mengirim pesan tanya soal latihan hingga ke yang lain. Di sms kami sudah saling bercanda tapi kalau ketemu rasanya susah sekali untuk bicara. Lama-lama itu pun hilang. Lama-lama kami terbiasa. Senang rasanya, ada tambahan motivasi baru. *hehehe Apakah cakil jatuh cinta dengan lawan mainnya? Bisa-bisa bagian perang yang sekian banyak malah jadi nglantur nanti. Apalagi banyak gerakan dimana cakil nakal. Mulai dari nyrongot, memegang tangan saat perang, pinggang saat sekaran, dll. “wah bikin menanti-nanti bagian-bagian ini nih.” *hahaha FOKUS.. FOKUS!! Target juara harus diraih. Suatu ketika ada rumor juara akan diambil dari tiap penari bukan sekolah. Mmm,, jadi yang akan dikirim dan dipasangkan ialah juara1 putri dan juara1 putra. Oh, Tuhan... saya tidak rela kalau dirinya dipasangkan dengan cakil yang lain. *dalam benak saya. Semangat-semangat!
Tidak terasa hingga sampai saat-saat H-7 hingga H-1. Makin lama saya makin merasakan banyak hal, rasa senang menjadi cakil, latihan malam dibalai desa itu, hingga saat-saat istirahat dengannya. Dia selalu ditemani ibunya kadang bersama ayahnya atau kakaknya. Kalau ibu saya sih otomatis ikut, ikut nglatih saya. Ketika di rumah, ibu pun sempat cerita. Saat istirahat, saat ibu bersamanya, ia pernah tanya-tanya soal aku. *hhe senengnya..
Malam sebelum esok tempur, kami gladi di tempat Lomba. Dak dik duk deh rasanya lihat rival di sana-sini. Setelah itu, saya sms dia dengan kedok sukses buat lomba besok, saya selipkan perhatian-perhatian lebih mulai dari jangan tidur malam, jaga kondisi, slmt tidur, dan lainnya.
Esok pun tiba, bergegas mandi kemudian menuju salon dimana saya akan dirias untuk lomba nanti. Semakin kencang irama jantung ini. Pemanasan sebentar. Kemudian bapak si empunya salon mulai merias saya. Beberapa berbincangan pun terjadi saat itu. Beliau mengenal ibu saya. “pengen juara berapa dek?” tanya beliau. “Pengennya ya satu pak dapat membanggakan orang tua dan sekolah”jawab saya. Kemudian beliau menyuruh saya, “coba deh tanjak..” saya pun meragakannya. Kemudian beliau berkata “ouh, bisa-bisa” . dengan tersenyum. Beliau juga seorang penari jadi tak heran, ketika beliau menyuruh saya tanjak dan menilai saya dari tanjak saya.
Sekitar 30menit kemudian, dari kepala hingga ujung kaki saya berdandan seperti Cakil. Dengan Mustaka di kepala, gigi pasangan, wajah diblok dengan warna merah, putih, hitam, dan beberapa aksesoris lainnya. Saya pun menyamankan gerakan-gerakan dengan kostum saya ini. Tak lama kemudian mobil sekolah datang menjemput lali mengantarkan kami ke tempat lomba. Alhamdulillah, Lomba berjalan dengan lancar. Banyak saudara yang melihat saya. Kebanyakan kakek-kakek saya yang gemar dengan budaya jawa karena kebanyakan asli surakarta. Banyak waktuku yang kulalui dengannya saat itu, hingga saat pengumuman lomba saat saya disebelahnya, melihat wajahnya yang dak dik duk. Dan.., kami meraihnya. Dia tersenyum lebar menatapku, aku pun demikian. Senang, kami pulang dengan kebanggaan.
Malam itu saya sms dia. Kita sama-sama saling cerita tentang yang selama ini kita jalani dan akhirnya kita dapat mensyukuri kerja keras itu. Rayuan-rayuan gombal tipe anak SMP pun tak jarang terketik olehku dan tak jarang pula yang tersangkut di inbok hanphoneku. Senengnya malam ini, bisa lebih dekat dengan dia. *hehehe
Dua minggu kemudian setelah kami berlatih lagi dengan seniman-seniman tari Kudus, kami berangkat menuju Pekan Olahraga dan Seni Karisidenan Pati. Sebelumnya banyak sekali pakar tari Kudus yang melihat, mengomentari, dan mengoreksi latihan kami. Bermalam di Pati adalah acara yang tepat untuk menambah kebersamaan kami. Walaupun disana kami tak menuai juara, tapi kemenangan masih ada di hati kami.
Setelah itu, tidak ada latihan lagi, atau yang lainnya. tapi saya masih menghubunginya. Hingga suatu pagi di bangku depan kelas, saya harus mengakui Cakil telah jatuh Cinta dengan Srikandinya. Dia datang dan duduk di sebelahku, aku mulai berbasa-basi dan ketika aku akan ungkapkan perasaan ini... tok.. tok.. tok.. tok... (suara sepatu bu susi).. Gawat.. aduhh.. Malah ada bu susi, bisa dilaporin ke ibu nih. *dalam benakku. Ternyata bu susi mencarinya. Dia melihatku, ia gugup agak bingung mau gimana, dan aku pun sekaligus cari aman ya bilang “ya udah gih temuin dulu”.. sebelum bu susi sempat melihat kita, dia sudah menghampirinya. Huhhhh.. syukurlah.. *hehe tak lama kemudian dia kembali, ekspresi tertawa kecil akan kejadian tadi, dia bilang bu susi meminta kita buat tampil diPPS nanti. “oh ya udah tampil aja” ujarku. “biar kita bisa latihan bareng lagi dan sering ketemu lagi. hehehe”tambahku. “yee,, kamu ini” sautnya. Perbincangan yang setengah tegang, gurau, seneng pun tecipta. Dan... tibalah saat saya merasakan saat yang tepat untuk mengungkapkan ini. “As, sepertinya Cakil udah terjebak nih..” dia menatapku dengan senyuman seperti memikirkannya. Sebelum dia sempat bicara lagi aku sambung ucapanku yang terputus itu. “ya.. karena srikandi tentunya.. kamu. Aku suka kamu, dari sekian lama kebersamaan itu, membuat kamu menjadi kebiasaan dariku, dan rasa sayangpun tumbuh” (suasana sudah lumayan serius) agak lama aku menunggu ucapan darinya. Liat kanan, kiri, bawah, kadang menatapku. Agak lama ia menatapku, ia tersenyum kecil dengan mata yang seolah mewakili ucapannya,”mmm..iya, aku juga. 20 hari itu, sepertinya membuatku terbiasa denganmu. Dan kamu terasa tak seperti orang lain lagi. Kalau memang mau serius, mmm... kenapa tidak? “ kemudian ia julurkan kelingking kanannya dan aku menyambuntnya dengan kelingkingku. “makasih ya.. sampai Jumpa nanti..” ucapku. “da.. da” ia bilang seperti sambil berdiri dan berjalan kembali ke kelasnya.
Senengnya, inilah cinta Monyet anak SMP era 2007an. Cinta lokasiku ternyata tidak beretepuk sebelah tangan. Beberapa hari kemudian ia mengajak bertemu, ia bertanya “apakah tidak apa-apa kita yang tidak sejalan ini bersama?” itu tanyanya. Aku pun menjawabnya “setidaknya, kita jalani dulu yang ada, mungkin jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu ialah tidak, tapi diri ini ingin demikian, tapi jikalau dirimu enggan, aku tak akan memaksa.” Itulah yang kami bicarakan saat itu.harus disadari bahwa diantara kami ada perbedaan yang sangat jelas, kami beda keyakinan. Walau rasa yang ada ini mulai tumbuh, dan kedua orang tua kami masing-masing sudah saling kenal.
Di PPS pun kita tampil, salah seorang guru pun bilang, “wah, dipanggung berperang, di belakang pacaran” Aku dan dia pun tertawa mendengarnya. Inilah semua tentang cinta monyet ini dengan srikandi.
Di penghujung 2008 kisah ini berakhir. Mungkin dirinya bingung, masih haruskah kami menjalaninya dengan perbedaan. Di awal 2009 aku mencoba kembali, kami dekat kembali. Bodohnya diriku, aku malah dengan teman satu kelasku yang belum aku yakini sepenuhnya. Padahal saat itu banyak yang bilang bahwa ia telah membukanya kembali untukku. Mungkin hanya satu kata, penyesalan. Pintu itu telah tertutup rapat. Dan dia pun dengan yang lain. Satu yang pasti, dirinya adalah seseorang yang selalu ada disini selama masa-masa itu, masa cinta monyet itu tanpa terganti. Walau dirinya bersamanya, dialah Srikandiku. Karena panahnya di akhir perang itu benar-benar tertancap dan belum kau cabut.

1 komentar: